Sistem elektronik di motogp lebih rumit dari hubungan Asmaramu

Sebuah motor motogp terkini memiliki teknologi terbaru yang sangat canggih. Motor tidak saja identik dengan berbagai perangkat mekanis tapi juga melibatkan sistem elektronik yang sangat rumit dan bisa saja lebih rumit dari hubungan asmaramu.

Dari mulai sistem pangapian, sistem pengaman, tranfer daya, hingga pada ban, semua tak lepas dari perangkat elektronik.

Perangkat elektronik ini terhubung dengan data center untuk mendapatkan data telemetri dari setiap gerak-gerik pembalap maupun motor di sirkuit agar dapat di tarik kesimpulan untuk menghasilkan motor yang lebih kompetitif di setiap balapan.

Oleh karenanya, pada teknologi motogp terbaru, keberadaan berbagai sensor sangat fital untuk pencapaian juara bagi sebuah tim.

Satu sensor saja yang tidak bekerja sebagaimana mestinya maka akan sangat fatal akibatnya. Seperti yang dialami Dani Pedrosa di tahun 2013 lalu, akibat sensor yang membaca putaran roda belakang putus karena bersenggolan dengan Marques. Maka fitur traksi kontrol tidak bekerja sebagaimana mestinya sehingga membuat Pedrosa tersungkur.

Contoh yang paling gampang dilihat adalah pada saat motor motogp memasuki trek lurus setelah tikungan, pembalap akan berakselarsi semaksimal mungkin dan melakukan perpindahan gigi tanpa menyentuh handle kopling dan tanpa menurunkan tuas gas.

Bagaimana itu bisa terjadi??

Disinilah peran “otak” elektronik bekerja menganalisa masukan perintah dari tuas perseneling yang kemudian memerintahkan sistem pengapian untuk off sejenak dan sistem injeksi berhenti mensuplai bahan bakar, sehingga kondisi mesin persis seperti proses perpindahan gigi secara manual pada motor konvensional ketika tuas gas diturunkan – kopling ditarik – perseneleng di tekan (di cukit).

Hanya saja karena dibantu sistem elektronik dengan dukungan teknologi seamless-shift gearbox, maka proses ini lebih konsisten setiap saat sepanjang balapan tanpa miss sekalipun, bahkan proses perpindahan giginya hanya memakan waktu 0.009 detik saja.

Sistem elektronik di motogp lebih rumit

Honda telah lama disinyalir menerapkan teknologi robot kedalam motornya yang bertarung di motogp.

Seperti kita ketahui bersama robot Asimo buatan Honda memiliki kemampuan luar biasa sebagai robot.

Selain dapat berjalan layaknya manusia, Asimo pun dapat berlari dengan kecepatan yang lumayan sehingga terdapat kondisi saat dimana kedua kaki Asimo melayang di udara layaknya manusia berlari. Selain berlari Asimo juga dapat menaiki tangga, menendang bola dan kemampuan lainnya.

Keseimbangan Asimo ini yang katanya diterapkan ke motor balap MotoGP milik Honda. Itulah kenapa sebabnya Marques mampu menikung dengan sudut kemiringan yang ekstreme hingga lutut dan bahu menyentuh aspal bahkan terkadang pundak pun ikut-ikutan “mengelus” aspal.

Menjadi pembalap MotoGP pun tak kalah sibuknya selain fokus melaju untuk menjadi yang terdepan, pembalap motoGP pun harus mengatur strategy yang tepat agar bisa melaju hingga finish.

Stang motor MotoGP dilengkapi Strategy Button yang dapat di tekan-tekan saat balapan untuk mendapat kondisi motor sesuai setingan yang telah diatur sebelum race dimulai.

Seperti tombol untuk menghemat bahan bakar, tombol untuk mengatur kekuatan engine brake, tombol batas kecepatan, tombol untuk mengaktifkan Launch Control, tombol untuk mendapatkan power mesin, dan lain-lain.

Tombol-tombol ini terintegrasi dengan sistim komputer-unit yang rumit, yang sekarang telah menggunakan ECU seragam buatan magneti marelli.

Tidak hanya motor, baju balap yang di pakai para rider motoGP pun penuh dengan perangkat elektronik untuk meningkatkan kemanan pembalap jikalu terjadi kecelakaan.

Salah satu hal penting terkait yang ada di baju balap motogp adalah fitur Airbag yang dapat meminimalisir cidera ketika pembalap terjatuh.

Airbag ini didukung sensor canggih yang diletakan di punuk pembalap, sehingga dapat mendeteksi kondisi pembalap yang sekiranya cukup janggal dan terindikasi akan terjadi kecelakaan maka airbag akan segera mengembang dalam waktu sangat singkat, sekitar 0.045 detik.

Airbag inipun dapat kempes kembali setelah mengembang agar pembalap bisa melanjutkan balapan jika masih memungkinkan dan juga membantu para medis melakukan perawatan terhadap pembalap jika diperlukan.

Jika kemudian terjadi insiden lagi yang kedua kalinya maka airbag ini dapat mengembang kembali untuk yang kedua kalinya.

Sistem elektronik di motogp

Mengendalikan motor dengan tenaga hingga 210hp dan dengan berat motor yang hanya 150kg tanpa kontrol elektronik akan membuat pembalap kesulitan untuk menaklukannya.

Dukungan sistem elektronik pada motor dapat membantu pembalap mengendalikan motor yang memiliki tenaga “beringas” agar lebih mudah dikendarai.

Sistem elektronik di motor motoGP ini saling terintegrasi satu dengan lainnya yang didukung oleh kabel berkualitas tinggi yang terkadang juga membutuhkan pendinginan.

Sistem elektronik yang canggih didukung pula dengan sistem perkabelan yang mutakhir. Bayangkan saja jika seutas kabel tiba-tiba putus seperti kasus Pedrosa diatas. Bisa-bisa semua kerja keras tim dan impian mendulang poin akan sirna tanpa hasil.

Meskipun skill pembalap menjadi kurang terlihat maksimal dengan bantuan berbagai sistem elektronik ini, tapi teknologi terbaru yang diterapkan pada balap motor MotoGP dapat membuat motor melaju lebih cepat dan membantu meminimalisir kerugian karena kerusakan motor akibat human error dan meminimalisir cedera bagi pembalapnya.

Silakan tinggalkan komentar anda.

Click to comment