Review hasil Ternak Ayam Kampung Super Populasi 100 ekor

Tulisan ini adalah lanjutan Dokumentasi usaha ternak Ayam Kampung Super dengan jumlah Populasi 100 ekor.

Setelah beternak Ayam Kampung Super selama 4 bulan, akhirnya semua ayam sudah habis terjual. Jadi, ternak ayam kampung super 100 ekor terpanen dalam jangka 4 bulan!!

Tidak semua ayam dijual pada umur konsumsi, sebagian ayam di jual saat masih kecil sekitar umur 1 bulan dengan bobot antara 4-5 ons.

Beberapa ayam umur sebulan tersebut di beli oleh kelompok tani dan perorangan yang ingin memelihara ayam untuk sekedar buat peliharaan.

Kebetulan saat menjual ayam kampung super umur sebulan tersebut, ada program bagi-bagi bibit ternak dari pemerintah.

Jadi, ada perwakilan kelompok tani yang datang untuk membeli anakan ayam kampung berumur 1 bulan sebanyak 30 ekor untuk di bagikan kepada anggotanya.

Baca juga : Harga ayam kampung super umur 1 bulan

Selain dari kelompok tani, ada juga rekan dan handai taulan yang membeli anakan ayam kampung untuk di jadikan hewan peliharaan produktif.


Total dari ternak ayam kampung super 100 ekor yang di ternak, sebanyak 32 ekor terjual di umur 30-40 hari dengan bobot 4-5 ons.

Sisanya terjual di umur/ukuran konsumsi dengan bobot antara 8-10 ons dengan harga Rp. 35.000 per ekor.

Penjualan dilakukan melalui promosi di media sosial dan marketplace seperti OLX dengan hitungan per ekor bukan berdasarkan berat.

Pemasaran melalui media sosial Facebook dengan membuatkan halaman Fanspage khusus. Disini saya baru tau bahwa ternyata, Facebook tidak memperbolehkan perdagangan hewan, jadi saat ingin promosi di forum, ditolak oleh Facebook karena melanggar peraturan.


Akhirnya saya buatkan Fanspage, sebenarnya dengan fanspage pun lumayan efektif. Bahkan tanpa sentuhan promosi yang intensif, Fanspage ayam kampung super yang saya buat, lumayan banyak yang lihat meskipun tidak banyak yang nge-like hehehe.

Tapi itupun setelah fanspage yang dibuat, sudah berumur agak lama.

Jadi kalau anda baru ingin mulai ternak ayam kampung super dan masih belum yakin dengan pemasarannya, jangan lupa untuk membuat Fanspage di Facebook agar nanti saat panen, fanspage anda sudah banyak dilihat orang dan anda pun bisa mudah menjual hasil ternak ayam kampung super lewat Facebook.

Kalau diamati dari pertumbuhan ayam, ternak ayam kampung super 100 ekor yang saya ternak ini, memiliki pertumbuhan yang sangat lambat.

Wajar saja, karena ayam kampung ini lebih banyak di beri pakan alami berupa batang pisang dan kangkung, mungkin seperti ayam organik yaa hehe.

Oleh karena pakannya yang bisa di bilang full organik maka masa panennya pun lumayan lama atau bisa dibilang jauh lebih lama dari seharusnya.

Kalau melihat literasi dan referensi dari berbagai sumber, ayam kampung super ini sudah bisa dipanen saat umur 60 hari bahkan ada yang mengklaim bisa panen di umur 45-50 hari dengan bobot antara 7-10 ons.

Tapi untuk mendapatkan masa panen yang cepat tersebut, harus di bayar dengan pakan yang berkualitas dan memiliki kandungan protein serta gizi dan vitamin yang seimbang.

Pakan model begitu, bisa didapatkan dengan membeli pakan pabrik atau meracik sendiri yang bahan-bahannya pun relatif tidak murah.

Berhubung "percobaan" ternak Ayam kampung super kali ini bermodal pas-pasan, maka untuk biaya pakanpun benar-benar dihemat, kalau bisa tidak perlu beli, hehehe.

Dikatakan percobaan, karena sebelumnya saya memang tidak pernah punya pengalaman beternak ayam, jadi ini termasuk pengalaman pertama ternak ayam kampung super dengan pengetahuan yang masih minim termasuk pengetahuan tentang perawatan ayam dan juga pemasarannya.

Jadi untuk menghemat biaya pakan, Ayam kampung super ini hanya mendapatkan pakan pabrik diawal pertumbuhannya, yaitu pakan BR1 dari pertama doc datang hingga umur ayam 28 hari.

Baca juga : Satu karung BR1 (50 kg) untuk pakan ayam selama 25 hari

Setelah itu, ayam tidak lagi di beri pakan pabrik melainkan pakan alami yang ada di sekitar kandang.

Jadilah setiap harinya ayam di beri pakan kangkung atau gedebok pisang yang di rajang kecil-kecil. Kalau beruntung, kadang di campur juga dengan nasi basi pemberian dari tetangga atau buah-buahan busuk dari limbah pasar.

Yaa sesekali juga di beri campuran dedak, tapi itupun persentasinya masih lebih banyak kangkung/gedebok dibanding dedak, bisa antara 80:20 atau bahkan 90:10 atau kadang juga ditambah dengan campuran nasi basi.

Nasi basi kadang di berikan oleh tetangga karena mereka tahu kalau saya pelihara ayam. Dari pada nasi basi tersebut di buang ke selokan atau ke tempat sampah malah mengganggu pernapasan mending buat pakan ayam.

Jadi setiap hari ada saja yang memberikan nasi basi untuk pakan ayam, kadang ada juga sayur mayur atau roti, lumayan buat campuran pakan agar lebih ber-nutrisi.

Mengapa hanya di bulan pertama saja di beri pakan pabrik (BR1)?

Karena pada masa ini, ayam masih sangat rentan terhadap segala macam gangguann penyakit ataupun pertumbuhan yang tidak sempurna khususnya pada sistem pencernaannya.

Untuk meminimalisir kematian maka di putuskan untuk memberikan pakan pabrik kepada anak ayam (DOC). Karena pakan pabrik sudah melewati penelitian oleh ahlinya dan memiliki kandungan nutrisi dan gizi seimbang yang diperlukan oleh anak ayam (DOC).

Problematika pada peternakan ayam, salah satunya adalah penyakit. SOP atau standart operasional prosedur untuk ayam ternak adalah perlunya melakukan vaksin pada periode tertentu.

Karena masih pemula, pemberian vaksin ini tidak pernah saya lakukan selama masa pembesaran ternak ayam. Hanya beberapa kali diberikan tambahan vitamin seperti vithacik yang dicampur pada minum ayam.

Dampaknya mungkin pada jumlah kematian ayam yang cukup tinggi. Dari 100 populasi DOC, sekitar 29 ekor ayam yang mati selama masa pemeliharaan. Beberapa ekor mati saat masih DOC (umur kurang dari 1 minggu) sebagiannya lagi saat ayam berumur lebih dari 1 bulan.

Kematian ayam paling banyak malah setelah melewati masa kritis. Di umur 0-30 hari, tercatat hanya 3 ekor ayam yang mati. Sebenarnya gak bisa di bilang "hanya" juga, karena harga 3 ekor anak ayam bisa buat jajan bakso atau buat beli beras, heheehe.

Kemudian setelah 30 hari, tercatat ada 26 ekor ayam yang mati dari rentang umur 30-120 hari. Jumlah kematian yang sangat besar, bahkan untuk skala pemula sepertinya angka ini terlalu besar. Konon katanya untuk bisa mendapat keuntungan dari ternak ayam, persentase kematiannya tidak boleh lebih dari 10%.

Apalagi ayam yang mati sudah melewati masa kritis, tapi namanya ajal, siapa yang tahu, ya gak? hehehe.

Menurut informasi dari berbagai sumber, masa kritis pemeliharaan ayam adalah antara 14-21 hari, karena di umur 0-21 hari adalah masa-masa sensitif di mana pembentukan organ tubuh ayam terjadi, sehingga jika ayam berhasil melewati masa itu, maka daya tahan ayam relatif sudah aman.

Setiap ayam yang mati, bisa dibilang menjadi berkah buat Lele, karena bersamaan dengan merintis ternak ayam ini, saya juga mencoba ternak lele namun kebetulan perkembangannya ternyata tidak memuaskan. Lele nya tidak pernah ada yang laku terjual melainkan habis mati dan di goreng sendiri hehehe.

Kenapa ayam yang mati malah jadi berkah buat lele?

Karena ayam yang mati tersebut langsung di masukan kedalam kolam lele yang terbuat dari tanah sehingga bisa jadi sumber makanan bagi lele. Lumayan menghemat biaya pakan lele, akhirnyapun lele nya tidak pernah di beri makan. hahaha.

Baca juga : Kolam tanah pakai Jaring untuk ternak lele

Berkah bagi lele, derita buat saya... Kalau ayam yang mati masih berumur 1 mingguan, mungkin tidak terlalu kehilangan, karena kerugiannya tidak terlalu besar. Kalau sudah 1 bulan keatas nyesek juga rasanya. Karena ukurannya sudah lumayan, biaya pakannya juga lumayan.


Jadi kalau kelihatan ayam sudah mulai tampak lunglai, langsung saja di "belai" alias di beleh, daripada keburu mati.

Maklum peternak pemula, belum kepikiran treatmant untuk mengatasi ayam yang sakit termasuk vaksin. Solusi satu-satunya ketika mendapati ayam yang sakit adalah dengan menyembelihnya buat lauk. Lumayan buat menu Ayam Lodho khas Tulungagung.

Lumayannya daripada beli dipasar. Meskipun begitu, sering kecolongan juga. Misalnya saat memberi makan di pagi hari sudah terlihat ada ayam yang "teler", tidak mau makan.

Langsung buat rencana, nanti tunggu sore saja baru di potong trus di masak opor atau soto, ehh ternyata pas masuk kandang sore harinya, ayam tersebut keburu mati, batal makan ayam malah jadi rejekinya lele.

Langsung lempar ke kolam lele tanpa di bakar/dipanggang terlebih dahulu seperti yang dilakukan oleh peternak lele pada umumnya.

Kalau dihitung-hitung, total dari ayam kampung super 100 ekor periode pertama ini (mungkin akan lanjut periode dua tapi mungkin juga tidak) maka jumlah keuntungannya adalah.

Hasil penjualan Ayam Kampung Super :

Hasil penjualan ayam umur 15-25 hari dengan harga Rp. 20.000 per ekor adalah 140.000 dari 7 ekor ayam yang terjual

Hasil penjualan ayam umur 30 hari dengan harga Rp. 23.000 per ekor total yang terjual saat itu adalah 30 ekor jadi 23.000 x 30 ekor = .Rp. 690.000

Lalu penjualan ayam dengan ukuran panen yaitu antara umur 2-4 bulan dengan harga 35.000 perekor adalah sebanyak 25 ekor. Totalnya adalah Rp. 875.000

Total hasil penjualan Ayam adalah : 875.000 + 690.000 +140.000 =  Rp. 1.705.000

Sebagian Ayam di konsumsi sendiri buat lauk, biar tau rasanya ayam kampung super dan tau bedanya dengan ayam kampung asli, hehehe. Padahal karena ayamnya sakit, daripada mati mending di sembelih buat lauk.


Biaya yang di keluarkan selama pemeliharaan ayam kampung super adalah ;

Membeli 100 DOC AKS (1 box) seharga 875.000.

Membeli pakan BR1 seharga 390.000

Pembelian pakan ayam eceran selama rentang umur 30-120 hari berupa dedak dan jagung giling adalah total Rp. 100.000.

Jadi total pengeluaran adalah Rp. 1.365.000


TOTAL penghasilan dari ternak ayam kampung super dengan populasi 100 ekor adalah ;

1.705.000 - 1.365.000 = 340.000

Jadi keuntungan ternak ayam kampung super saya kali ini dengan populasi 100 ekor adalah :

Rp. 340.000, dalam jangka 4 bulan.


Hitungan diatas tidak memasukan biaya kandang, tenaga, waktu, listrik dan lainnya. Kalau semuanya ikut dihitung, yaaa ... berarti hitungannya malah rugi. Karena biaya pembuatan kandangnya saja sudah habis sekitar 200 ribuan.

Itupun karena kandang tidak di bangun dari awal, sebab lokasinya memanfaatkan bangunan bekas gudang yang terbuat dari papan.

Belum lagi tenaga buat meracik pakan ayam. yaa pakannya memang gratis karena tinggal metik di areal sekitar kandang.

Atau kalau butuh batang pisang, tinggal tebang pohon pisang yang masih kecil atau yang sudah berbuah yang juga tumbuh disekitar kandang. Tapi untuk memprosesnya menjadi makanan ayam, cukup menyita tenaga dan waktu, apalagi semua dikerjakan manual.

Yaa memang kalau mau hemat, harus keluar tenaga tapi kalau mau praktis harus siap keluar biaya.

Sedangkan modal untuk ternak ayam kali ini adalah hasil minjam koperasi yang harus dicicil tiap bulan. Jadi??? Ayamnya sudah panen dengan hasil minim, tapi cicilannya tetap jalan. wkwkwkwk.

Sebenarnya ternak ayam kampung super 100 ekor sama capeknya dengan ternak 500 ekor. Kalau anda punya modal lumayan banyak, sebaiknya sekalian pelihara 500 ekor.

Beli DOC 5 box (500 ekor) kemudian besarkan dengan memberikan pakan pabrik / voer dari kecil hingga panen agar masa panennya bisa cepat dan anda tidak perlu repot meracik pakan.

Seandainya keuntungannya bisa 5000 Rupiah per ekor ayam dan dengan persentase kematian 10% maka potensi keuntungan anda dalam jangka 60 hari adalah sekitar 5000 X 450 ekor = Rp. 2.250.000.

Tapi harus riset pasar dulu, bagaimana serapan ayam kampung khususnya ayam kampung super didaerah anda dan bagaimana anda akn menjualnya (apakah ke pengepul atau ke konsumen langsung).

Penjualannya sebaiknya dihitung per ekor, jangan berdasarkan berat. Karena berat ayam tidak sama. Ayam Kampung ukuran konsumsi yang di terima di warung-warung makan punya berat antara 0.8-1 kg.

Kalau lebih dari itu biasanya warung makan tidak mau terima karena tidak memenuhi standart ukuran.

Karena warung makan biasanya menyajikan menu ayam dalam ukuran yang seragam.

Kalau misalnya pemilik warung hari ini membeli ayam bobot 1.2 kilo trus disajikan ke pelanggan, besoknya pelanggan tersebut datang lagi kewarung membeli menu yang sama, ehh disajikan ayam yang bobot 0.8 kg.

Pelanggannya tentu komplain..

"mas kemarin pahanya besar, sekarang kok kecil?, padahal harganya sama"

Makanya pemilik warung menginginkan ayam kampung super dengan bobot antara 0.8-1 kg saja agar menu masakannya seragam.

Umur ayam kampung super untuk mendapat berat segitu adalah antara 50-60 hari, tergantung pakan yang diberikan.

Jadi peternak harus segera menjual ayamnya jika sudah mencapai bobot tersebut, karena kalau sampai lewat hingga 1.2 kg atau lebih, tentu akan membuat biaya pakan membengkak dan penjualannya pun menjadi agak sulit karena target pasarnya adalah perorangan dan penjualannya secara eceran. Tidak seperti menjual ke warung-warung / pengepul yang umumnya dalam jumlah banyak.

Semoga cerita pengalaman ini bisa menjadi referensi dan membantu anda memperhitungkan segala kemungkinan yang akan di hadapi ketika ingin berusaha ternak ayam kampung super.

Tips yang mungkin bisa diberikan ketika berusaha ternak ayam kampung super adalah. Minimalisir kematian ayam dengan memperhatikan kebersihan kandang dan pemberian makanan seimbang penuh gizi.

Kalau tidak bisa meraciknya sendiri, sebaiknya beli pakan pabrik saja. Beli pakan pabrik memang mahal, tapi kalau di perhitungkan dengan resiko ayam kekurangan gizi yang berakibat kematian pada ayam yang tinggi maka sebaiknya di perhitungkan benar kebutuhan pakan untuk ayam ini.

Pertimbangannya, kalau buat pakan sendiri memang lebih murah tapi perlu tenaga ekstra untuk meraciknya, tapi kalau beli pakan pabrik, tau beres tinggal langsung berikan ke ayam.

Kalau mau menghemat, bisa campur voer dengan bahan alami seperti batang pisang atau kangkung dengan presentasi maksimal 70 : 30 persen (70 persen voer). Namun tetap memperhatikan reaksi ayam terhadap perubahan menu makanan.

Kalau ayam tampak kurang selera makan, sebaiknya di kurangi campuran bahan tambahannya.

Karena kalau salah malah bisa bikin ayam gak nafsu makan atau tetap terus makan namun FCR nya tidak ideal.

Bisa-bisa nanti bobot ayam sudah ideal untuk di panen tapi kondisi ayam kurus. Jadi malah sulit juga menjualnya.

Yaa.. ini hanya sharing saja tentang pengalaman pelihara ayam kampung super alias joper dengan populasi 100 ekor.

Ternak ayam kampung super 100 ekor sebenanrnya relatif mudah karena ayam ini sejatinya tidak rewel asalkan tidak telat memberinya makan agar semua kebutuhan nutrisinya bisa terpenuhi lewat makanan yang di berikan.

Semoga bisa bermanfaat dan bisa menjadi referensi bagi anda yang berencana memelihara ayam kampung super dengan populasi 100 ekor.

Jika ada yang ingin ditambahkan, terkait tips dan trik beternak ayam kampung super, mohon kiranya berbagi melalui kolom komentar. Semoga bermanfaat.


Silakan tinggalkan komentar anda.

Click to comment